Showing posts with label sajak. Show all posts
Showing posts with label sajak. Show all posts

Sunday, November 13, 2011

Kembali ke Gema Dikir

Terima kasih editor ruangan Puisi Mingguan Malaysia kerana menyiarkan sajak saya.

Sajak ini sebenarnya ditulis dua tahun lepas (lama dah....). Terhasil setelah sahabat pelukis, Mohd Noor, membawa kami melawat rumah bekas pensyarah kami, Najib Nor di Pangkal Meleret, Kelantan. Pensyarah kami sudah bersara, tetapi jiwa seninya tidak. Jiwa seninya menjelmakan rumah pusaka menjadi tempat kegiatan kesenian. Malam itu kebetulan ada persembahan dikir laba. Lalu saya teringat sebuah artikel tentang dirinya dan kegiatan seninya dalam sebuah majalah. Kepada wartawan yang menemubualnya, dia menceritakan kenangannya ketika zaman kanak-kanak - bagaimana dia terpesona dengan persembahan makyong dan lain-lainnya, yang sentiasa meriah di tempat kelahirannya pada ketika itu.


Kembali ke Gema Dikir

Usia telah membawa
Kaukembali ke daerah lama
Mencari jejak-jejak purba
terhapus oleh jalar kota
Menyirati desa.

Angin kampungmu telah kehilangan
Irama masa silam
Kaurindu
Pada malam gempita
Oleh dikir laba
Berembun dini
Dipukau asyik Pakyong
Melentik jemari.

Usia telah mengalih arah
Membawa kau ke daerah pusaka
Di rumah tua
Kauadun lenggok warna
Dan loncat garis
Menjadi dinding pamer galeri
Serta bangsal arca di sebelah kiri.

Kau kembalikan
Gema dikir
Bersilir kecipak air
Di taman kecil.

Mingguan Malaysia
13 Nov 2011


Sunday, April 3, 2011

Terima kasih, editor


Seusai Hujan

Kau ingat
sisa hujan teralir ke dahan-dahan kayu
getar daun dalam geliat angin
menyebar titis-titis dingin
ke kening.

Ku ingat tawamu
waktu titis berbaki dari hujung daun
menimpa bibirku, kuhirup
mengecap dinginnya
menjelajari segenap tubuh.

Kau ingat
benaman tapak sepatu
membekas pada tanah basah
percik lumpur
bagai tompokan warna
menodai kaki celana.

Kau masih dengarkah
laungan ibu dari jendela terbuka
sejenak kita lupa
lengking-melengking suara sang kodok
menggiring senja
ke perabung rumah kita.

Terima kasih, tuan editor, kerana menyiarkan sajak saya....
Saya ingin mengulang pantun yang tak basi-basi, "terima kasih daun keladi...."

Monday, September 6, 2010

Tikar Takdir

Akhirnya kau terlantar di tikar usia
temanmu, mengkuang pengalas tilam kekabu
lusuh dan kelabu
itulah tikar takdirmu
seakan terhimpunlah jerih pengalaman
pada alir urat daging tua
seakan terlontarlah segala kesakitan
lewat raungan tak kedengaran
menyisih percakapan
yang tidak mampu lagi kau tuturkan.

Akhirnya kau terhantar ke tebing usia
tegap sasa tubuhmu akhirnya menyerah pada waktu
dan redup berkaca matamu
seperti payah menyalami
ramah angin yang menyelinap
celahan papan rumah tua
seperti membawa ingatan
jering rebus bersalut kelapa
yang kauhidang
diramas tangan kecilku bersalut angin laut.

Akhirnya kau terdampar di pinggir usia
tubuhmu yang berangka
kini terkepung oleh takungan takdir
kau hanya merenung perabung
barangkali membilang ibadah
yang kaubawa sepanjang perjalanan
aku merasa lincah angin
menyusup celahan lantai rumah tua
yang dulu digegar oleh hentak kaki kecilku
sambil menjemput ingatan
pada debur ombak yang kuhitung
terlayang ke dalam mimpi.

Akhirnya kautewas disisih usia
terkepung oleh takungan takdir
yang tertulis
dulunya tidak pernah dapat dibaca,
dan debur ombak yang tidak kudengar lagi
seperti membayangkan
tikar takdirku yang tidak mampu kuterka.

07 - 09. 07.08
(Sesudah suatu ziarah)

Sunday, August 8, 2010

Sekadar Mengenang...

Saya terjumpa sebuah buku nota lama milik saya semasa tinggal menyewa kamar di Minden Height. Buku nota itu penuh dengan coretan sajak. Ada yang selesai digarap dan ada yang tergantung. Banyak sajak yang merakamkan kesunyian....

Di Minden Height, saya memang kesunyian kerana teman saya, Rehan Yaacob, selalu saja sibuk. Dan bila dia pulang, selalunya teman-teman kursus lakonannya, Ema Sulai dan Amy Rhapor, ikut mendatangi, menghalau kesunyian saya dengan jenaka dan tawa.

Kerana selalu kesunyian, terhasillah sajak ini.

Sepi Gugur di Kaca Jendela

Menangkap bayangmu
melintasi rumput
sedang harum cempaka tidak
menyebarkan apa-apa berita,

Khabar, kudakap hampa
rindu yang lintas-melintas
di ruang ingatan
sarat, tidak tereja maknanya
tidak tertangkap gemanya.

Di pintu, kunantikan ketukan
siapalah yang bakal datang
mengusir sepi di kaca.

07.07.87
Minden Height

Thursday, July 1, 2010

Belum Bersajak....


Monolog Air

Kumasuki lembah
dengan alir gagah
membenam belantara usia berjuta
dan segala ceritanya.

Kutakluki lekuk dan lurahnya
bahasa rimba
masih setia dengan segala rahsia.

Kusingkir daratan dengan pohon-pohonannya
kota airku saujana
kusebar kedinginan
pada biasan bayang-bayang
dalam pegun kau menatapnya.

Kuapungkan kesenyapan
pada tenang permukaan
kupinjamkan kedamaian
buat kau memunggah lelah
yang terheret pada setiap langkah
di celah susur kota
yang riuh dengan segala duga dan peristiwa.

Kubiar angin seenaknya berpapasan
di bawah awan
percakapan yang diam
dan kau mendengarnya
bak milik alam berseloka
kutahu
kaubawa cinta
menyatu dan akur akan nikmatNya.

Rositah Hj Ibrahim
Tasik Temenggor - Royal Belum 2010

Saturday, April 10, 2010

Sajak ini aku tulis untuk.....

Semua orang kenal Sasterawan Negara A Samad Said. Rasa saya, rakyat Malaysia yang mengatakan tidak kenal atau tidak pernah dengar nama beliau, bolehlah kita campak mereka itu ke laut saja!

Semasa beliau menerima Anugerah Ijazah Persuratan, saya mencoretkan ke dalam buku catatan ungkapan ini;

Sepercik tinta menyebar aksara
Cinta tersulam ke nadi anak bangsa

mengungkap selaksa erti

menafasi detak seni.

(28.08.03)

Ungkapan selintas ini akhirnya menjadi puisi, dengan baris pertamanya menjadi judul. Saya ada menghantarnya ke dua, tiga penerbitan, tetapi tidak tersiar. Maka saya menyimpannya sebagai milik peribadi.

Sepercik Tinta Menyebar Aksara

Duka terpenjara di celah-celah peristiwa
kala kau menginjak usia pada zaman penuh luka
di laman derita
kau mengecap hangat ribaan bonda
cintanya berkolam sejuk seperti air telaga
yang menjirusimu saban hari
dengan janji cerita demi cerita
di laman derita
kau begitu lekas menjadi dewasa
pada usia kau masih perlu bermanja
telah kau tafsiri bobroknya makna kehidupan
memahami nyawa manusia harganya tanpa taruhan
bila tetanggamu yang semalamnya enak berjenaka
menyambut pagi dengan wajah tidak dikenali
semuanya berkecai oleh ledakan bom dinihari
di laman derita itu
tertebar kabut mimpi
mengapung seperti hari depan yang tak pasti.

Itulah ledakan zaman sengsara
menumbuh anak yang mengurung percakapan
ke lembah fikir yang matamg.
Dan kauheret debu waktu lalu
pada tapak sepatu
memesrai dunia buku-buku
mengunyah rahsia kehidupan dengan deretan aksara
melontar resah dengan lunak bahasa
mengungkap kebijaksanaan lewat bicara pena.

Kau tidak lelah
bila musim telah memunggah
usia lalu ke pelabuhan baru
bunga pengalaman matang pada ranting kehidupan
sepercik tintamu mengeja makna
tersebar cintanya ke jiwa anak bangsa
sepercik tintamu mengungkap selaksa erti
berdetak menafasi nadi seni.

Saya teringatkan sajak di atas apabila membaca coretan blog tentang A Samad Said, oleh seorang penulis yang saya minati. Dan sebagai peminat tokoh ini, dengan cara saya, saya juga ingin mengucapkan;
Selamat ulang tahun, Pak Samad!

****
Saya juga menulis sajak untuk suami. Sajak berikut tidak pernah saya tunjukkan kepadanya. Sempena ulang tahunnya, esok, saya paparkan sajak itu di sini;

Warna Semara

Saat rembulan menyebar serpih sepi
ada yang menyusup ke dalam kenangan
himpunan pengalaman lewat musim berganti
bagai tenang kapal di pelabuhan singgahan
sesudah dilambung gelombang lautan demi lautan.

kukuh cinta kita memetri janji
meski bertahun kupelajari
ikrar cinta yang ada kalanya sulit untuk kufahami
debur kehidupan membadai di jiwa
tapi warna mimpi kita tetap sama.
Bilah pengalaman yang kauanyam
mendindingi ruang erti
aku belajar memahami
himpun bicara pada pada garis dan warna
raung yang terkumpul pada hujung berusmu
pedihnya hinggap di mataku.
Serakan warna pada kanvasmu
perciknya sesekali menodai pakaian kesabaranku
tercabarkah setia
kala nasib terjaja di jari pengumpul karya
gelodak jiwa tumpahnya ke cangkir cinta jua!

Saat rembulan mendaki langit perkasihan
kutenun sutera kata menyulami purnama
biarpun pengertian terbibit dari waktu-waktu yang jerih
rasa terbaja oleh detik dan masa
menyihir kerikil perjalanan menjadi permata.

Di bawah langit kelabu
kita merengkuh lengkung pelangi, mengarai mimpi
mahar perkahwinan melewati
lenggok garis dan calit warna
kudengar desah nafas seniman
membisik azimat semara!


Friday, December 4, 2009

Sajak Dulu-dulu

Dari dalam sebuah fail lusuh, saya terjumpa sejumlah sajak saya yang lama. Bertaip di atas kertas yang sudah rapuh, menguning dan garing dimamah waktu, dan tidak berjilidpun. Saya membelek-belek, tidak banyak, hanya 21 buah dan terhasil dalam tahun 1986 hingga 1987. Sebahagiannya sudah terlupakan. Yang sudah tersiar dalam akhbar atau majalah, saya catat dengan tulisan tangan - tarikh siaran dan nama akhbar/majalahnya.

Sajak ini saya baca waktu di luar alam kebasahan oleh hujan yang turun sejak awal pagi. Begitu kontras.

Nyanyian Kemarau

Bila matahari menciumi cuaca
mengusir hijau daunan
dan menyebarkan salam kematian:
temaramlah mimpi kesuburan.

Susut usia menyinggah
pada daun-daun
mengabarkan kisaran musim:
jerit matahari menggelepar
di sela ranting-ranting - daun-daun menyisih.

Mastika
Mei 1989

(Biasanya sajak-sajak yang tersiar saya simpan keratan akhbar atau majalahnya, tapi Mastika keluaran di atas, jenuh dicari tapi tidak saya temui. Saya jarang ketinggalan membeli majalah Mastika versi 80an dan awal 90an, iaitu sebelum bertukar bentuk menjadi Mastika seperti yang kita lihat sekarang.)

Dalam Diri

i.
Suara gerimis melayarkan sepi
ada detik yang diam-diam berangkat
menyalami lelah duka

mimpi terhimpit
pada selaut kata
tak tereja.

ii.
Sebuah ruang mencatatkan getar sunyi
yang luruh, menyalami
lelah duka
selaut puisi
tak terselam maknanya.

Berita Minggu
25.09.1988

(Yang saya ingat, sajak ini terhasil sewaktu saya bersendirian (dan sunyi) di kamar sewaan. Rehan Yaakob, teman penyewa, banyak sangat aktivitinya, sampai kerap lupa balik! Sesekali Amy Ghapor dan teman baiknya Ema Sulai datang meriuhkan kamar. Hingar juga kalau Pah Ni turut bersama. Saya dan seorang teman lagi, Noorjan Abd Rahim, kerapnya jadi tukang ketawa saja!

Menjelang Perkahwinan
(untuk Lina)

Berulang kali kau mencatat getar rindu
yang berangkat, menyulaminya dengan rindu
Dan kudengar desah kupu-kupu
dari dadamu.
Detik berangkat dalam senyap
sebentar lagi kau bakal menyempurna mimpi.

Tanpa Judul

Kudengar titik hujan
memercikkan sisanya ke daun-daun,
ke tanah dan ke atas atap
dari dalam kamar memang dapat kubayangkan
kilaunya waktu cahaya lampu
mencuri keluar dan mencumbuinya.

Memang ada sezarah keinginan menguit rasaku
memintal sepi ke dalam bahasanya
tetapi jam yang kulirik
mengingatkan kepada banyak perkara yang tidak selesai,
Ah! Hidup terlalu banyak mengejar keperluan

Berita Minggu
Dis 1987
(tidak tercatat tarikh, dan yang saya ingat, saya memang terlalai untuk menyimpan keratan akhbarnya)

Saya suka suasana sewaktu hujan turun. Waktu kecil saya suka dengar bunyi hujan mengguyur dari dalam rumah dengan pintu dan tingkap tertutup rapat.

Sewaktu Menyatu Gerak
Alam di Jantungku...


Kecuali desir hujan yang memesrai rumputan
tiada nyanyian yang mendamparkan dingin Teluk Laguna ke mari.
Semilir angin yang berlenggang di dada Makiliing
telah menyalami sepinya
melontar puisi
yang pasrah dalam genggaman zat.
.... ada bisikan di tasbih rahsia!

Berita Minggu
14.06.87

Catatan Hari Hujan

Hanya hujan yang membawa baumu ke mari
setelah desir angin menghantarmu
sesudah lelap mimpi di perbaringan
menyisir helaian sunyi
memilir di rambut hari.

Tidak ada yang bersemarak hari ini
kecuali manis mawar di perbukitan
disuburi angin basah
segala yang lain tiba-tiba senyap
di bawah gerimis.

Hanya desir hujan
memesrai rumputan.

Berita Minggu
12.04.87

Di luar, Hujan Sedang Turun...

Sebelum subuh hujan melontar desirnya
ke dasar sepi. Dingin yang berlumba
mencumbu kamar
membolosi jendela terbuka.
Apakah di sana engkau tiba-tiba terjaga
waktu derunya tiba-tiba memukul
kaca jendela?

Dan sehingga ia reda
tak henti kusalami
dingin mimpi tersisa.


Sajak Sederhana

Tidak kudengar angin menyapa
di langit, bulan terlucut dari malam
dan pengap mengabarkan penantian yang
dirasa begitu lama.

Sewaktu titis embun mengingatkanku kepada waktu
kulepaskan catatan-catatan yang kurasa tidak bermakna.

Di ujung malam ada doa kukirimkan
begitu sederhana.

Berita Minggu
06.12.87






Saturday, November 28, 2009

Percakapan Kanvas Kepada Pelukisnya

(Khas untuk A Shukri Elias di Galeri Melor)

Ketika kau terlontar
sepi dan asing ke daerah makna
aku menjerit : penuhilah muka ini
dengan warna yang menyebar
cahaya bianglala.

Pastilah engkau lebih mengenal
lekuk dan lurah garis
yang menimbul percikan mimpi
kata menjadi puisi
lewat loncatan warna
yang menyihir permukaan putih ini
menjelma bahasa.
Memang ada getar pada sorot cahaya
yang kaulakar adalah peta zaman
kesenimananmu yang sentiasa teruji
oleh detik sukar dan deraan derita.

Memang aku pengundang ketakjuban
di luar sana ada mata kekaguman
terpegun oleh rentak irama
alunan yang kauserakkan pada mukaku.

hanya sekelumit yang mengerti
tentang kesengsaraan mengangkat makna
dan kemanisan yang terkecap oleh
kepuasan mencipta!

Percakapan sebenarnya lewat riak warna
dan lincah garis.

Rositah Ibrahim
Seri Gombak, Selangor
(berita Minggu, 21 Julai 2002)

Dua atau tiga hari selepas menghantar sajak ini ke akhbar, pada hari selasa, saya terkejut kerana menerima panggilan daripada editornya, Sutung Umar RS. Selama saya 'tengah rajin' menghantar sajak ke penerbitan, tidak pernah saya dihubungi oleh mana-mana editor.

Tanya beliau, "Rositah, u tak pernah lagi hantar sajak kat saya, kan?"

Dan saya selamba menjawab; seolah-olah beliau mengenali saya, "selalu hantar, u je yang tak pernah siar!" Dan kami berbual pendek bagaikan sudah saling mengenali, sehingga kawan yang berada di sebelah saya tika itu, menjadi hairan lalu bertanya, "kau memang kenal dia personally ke?" Dan selamba juga saya menjawab, "Aku kenal dia, tapi dia tak kenal aku!"

Dalam perbualan telefon itu, beliau memberitahu yang sajak saya akan disiarkan pada minggu itu. Beliau juga menyarankan agar digugurkan saja baris di bawah tajuknya. Tapi saya memohon agar dikekalkan kerana baris di bawah tajuk sajak itulah yang memberi makna peribadi kepada saya. Beliau terus bersetuju. Dan saya sangat-sangat berterima kasih kepada kepada editor ini.

Sajak inilah sajak pertama yang disiarkan selepas seminggu dihantar ke penerbitan. Sajak-sajak lain mengambil masa yang panjang, sehingga jika tersiar, saya jadi amat terkejut (kerana terlupa ada menghantarnya, dan lebih lagi kerana menyangka TIDAK akan tersiar).



Saturday, October 3, 2009

Mimpi Benih Damai

(Buat Sana Shah di Lahore dan anak-anak Seed of Peace seluruh dunia)

Ada rasa menyingkap dukamu
Saat merpati kehilangan putih warnanya
Lukapun mengabar puisi derita
Benua itu sarat sengketa
nyawa manusia pertaruhan tanpa harga
Tapi cinta tetap bertelaga di matamu, Sana
Mengerlip membisiki mimpi
Di dadamu tumbuh subur.

Saat kaujabat
tangan para sahabat
Penghuni kecil dunia
Sesama mengakrabi kasih insani
Tanpa ras, tiada kasta
Meski kulit berbeza warna
Cinta berkelopak sesama manusia.

Tapi mimpi cinta
Lindap di matamu, Sana
Keamanan dan kecintaan
Hanyalah debu angan-angan
Kerana dunia menyesah
Gelombang nafasnya yang lelah
Kemanusiaan luluh di hujung senjata
Cinta menzarah dengan harga tak terjangkau
Darah melakar kanvas sejarah
Bangsamu diintai dendam tak sudah.

Jangan tangisi cinta yang mendebu, Sana
Teruskan karangi nyanyi benih damai
Dengan anak-anak dari segenap bangsa
Memang suara kecil tidak bisa mengubah dunia
Tapi dendang cinta harus terus menyebar
Melodinya ke serata benua.

Rositah Hj Ibrahim
(Prahara di Padang Karbala, 2003/Terbitan Fakulti Bahasa Moden dan Komunikasi, UPM dengan Kerjasama Pustaka Nusa Sdn Bhd)

Sajak di atas terhasil setelah menatap sekeping foto dalam majalah Newsweek. Foto itu memaparkan profil seorang gadis yang sedang merenung masjid di kejauhan dari sebuah bangunan ( kelihatannya seperti balkoni sebuah bangunan).

Rencana yang mengiringi gambar itu mengisahkan seorang gadis 14 tahun bernama Sana Shah, dari Lahore. Dia telah memenangi sebuah pertandingan karangan yang dikhususkan kepada kanak-kanak di negara-negara yang dilanda peperangan. Pertandingan itu dianjurkan oleh sebuah pertubuhan bukan kerajaan bernama Seed of Peace yang berpengkalan di Amerika. Seed of Peace telah memilih dan mengumpulkan pemenang-pemenang pertandingan itu di sebuah daerah di Amerika dan menganjurkan aktiviti untuk anak-anak ini.

Saya tidak berapa ingat tentang aktiviti yang dijalani oleh anak-anak ini. Tapi apa yang yang saya pasti adalah mereka berkumpul di suatu tempat, menjalani kehidupan sebagai kanak-kanak dan melupakan keperitan peperangan.

Setelah melalui suatu tempoh masa, mereka pun pulang ke negara asal. Rencana ini menyoroti kehidupan harian gadis kecil itu di tempat asalnya. Dipaparkan juga foto Sana Shah bersama rakan-rakan sekolahnya.

Saya lalu membayangkan sebuah dunia yang bebas sengketa...
Saya terbayangkan lukisan matahari tersenyum yang dibuat oleh anak-anak kita...
Saya teringat pameran lukisan kanak-kanak dari sebuah negara yang sentiasa berdarah - darahnya menyimbah ke atas kanvas!

Thursday, September 10, 2009

Usia

Usia

Jari-jari meraba angka muka kalendar
Kutahu, aku telah tewas pada waktu
Ia berlalu terlalu cepat, tak sempat kuburu
Sekian banyak tersesia
Kerana banyak menunggu.

Ranting-ranting renggeh menjulang angkasa
Musim menyihir hijau daun ke coklat tua
Berebutan membajai tanah
Angin mengabar berita
Alam menginjaki usia.

Rositah Hj Ibrahim
Puncak Alam

Tuesday, August 25, 2009

membaca Sajak Zurinah

Zurinah Hasan, penyair yang ku kenali lewat puisi-puisinya yang tersiar dalam Dewan Sastera. Waktu itu aku dalam tingkatan satu, dan baru berjinak-jinak membaca Dewan Sastera.

Dewan Sastera senang ditemui di pekan kecilku dalam tahun-tahun 70an. Kedai Buku Melati, kedai buku yang paling maju kukira di pekan kecilku waktu itu, sentiasa ada terbitan majalah dan buku terbaru. Manakala jika hendak cari Dewan Sastera keluaran yang lepas-lepas, aku akan menyusuri kedai buku kecil, Pustaka Buku Marhan (di situ kutemui Sayang Ustazah Sayang, Salmi Manja). Dan kerap juga aku membelek-belek majalah di Pustaka Setia Raya. Di situ aku terjumpa sajak-sajak Lim Swee Tin. Tidak sangka pula, penyairnya bertugas di sekolahku selepas dua tahun aku hanya mengenali namanya lewat sajak.

Dari perpustakaan sekolah ku temui 'Sesayup Jalan'. Dalam tekun menghayati Sesayup Jalan, aku mengakrabi juga Dalam Pelarian Zaihasra dan Nyanyian Malam Siti Zainon. Selain mendekati puisi karya penulis wanita lain seperti Habsah Hasan dan Siti Zaleha Hashim.

Membaca sajak Zurinah kita akan mendapat kesan bahawa permainan katanya tidak sekadar menyedapkan bunyi agar kedengaran enak bila dibaca; tapi membawa erti dan pemikiran. Pemilihan kata yang sederhana, namun membawa pemikiran yang bermakna.

Biarlah Gunung Ledang berdiri mengingatkan
ada bunga yang tidak dapat digubah
sesedap titah.
Seorang perempuan pun ada kalanya
berhak memiliki kebebasan
seorang sultan pun ada kalanya
harus tunduk kepada kesalahan.

(Zurinah Hasan ;'Pesanan Puteri gunung Ledang kepada Sultan Mahmud')

A
ku titipkan di sini sebuah coretan kecil yang aku tuliskan setelah mengulang baca beberapa antologi beliau yang ada dalam koleksiku.

SAJAK-SAJAK ZURINAH

Semakin dibaca
semakin tertikam sukma
lunak bahasa tidak dibumbui bunga-bunganya
tapi jalur pemikiran
dan renungan
menebar ke luas kehidupan.

Rositah Ibrahim
30.03.06
Puncak Alam