Showing posts with label Sajak-sajak penyair tersohor. Show all posts
Showing posts with label Sajak-sajak penyair tersohor. Show all posts

Thursday, November 24, 2011

'Catitan Harian' (A Latiff Mohidin)


Saya telah dipukau oleh sajak A Latiff Mohidin sejak di bangku sekolah. Sewaktu mula-mula membaca sajak ini, saya berasa begitu kagum kerana peristiwa yang biasa berlaku dalam kehidupan harian kita menjadi begitu indah dalam ungkapan beliau. Namun apabila diulang baca sajak ini beberapa tahun kemudiannya dalam usia yang kian menginjak, saya terasa sepi mendatangi hati.

Catitan Harian

hari ini
banyak sekali
perkara penting
berlaku dalam hidupku:


      kalendar p. ramlee jatuh
      dari dinding

      sikat hijauku hilang


      seekor cicak bertelur
      di sudut almari


      temanku diam-diam
      melipat kainnya
      ke dalam beg


A Latiff Mohidin
dari antologi Wayang Pak Dalang

Thursday, August 13, 2009

Tentang Usia

Saya gemarkan sajak Allahyarham T Alias Taib, atau mesra dipanggil Pak Engku. Sajak di atas adalah sajak dari antologi beliau dengan tajuk yang serupa. Antologi beliau yang lain adalah Pemburu Kota, Seberkas Kunci, Opera, Piramid, Pasar Pengalaman; setakat yang saya tahu dan miliki. Ingin sekali saya miliki Laut tak Biru di Seberang Takir, terbitannya tahun 1972- tempoh masa yang terlalu jauh, dan hal inilah yang barangkali menyukarkan perolehannya.

Sajak-sajaknya ekonomis kata tapi cukup mengesankan rasa. Permainan bahasa yang tidak dibuat-buat tapi menjadi indah pengucapannya, hasil keupayaan penyair yang tinggi daya intelektualnya dan tajam pengamatannya.

Sewaktu percutian di KT beberapa lama dahulu, dan kemudiannya tahun lalu menghantar Ilham untuk mendaftar di UMT, tidak dapat tidak patah-patah katanya serasa menyelit di celahan deru ombak dan desir angin pantai.

Tentang usia (oh, teringat sajak Leo A.W.S dalam antologi Bulan Senja) banyak kita temui dalam puisi-puisi penyair, dan kerapnya puisi tentang usia ini terhasil apabila umur mencecah 40an. Dan apabila bicara tentang usia, orang kerap kali akan menyebut soal 'perpindahan abadi'.

Saya ingin berkongsi dengan teman-teman lagi sebuah sajak T Alias Taib:

Lain penyair lain pula gaya yang memikat saya. Saya turut menggemari Baha Zain. Antologi beliau Dari Kertas Catatan Tengah Malam dan Sepuluh Sajak / Ten Poems adalah antara koleksi terawal milik saya sendiri. Sebelumnya hanya buku-buku kumpulan sajak yang saya temui di perpustakaan sekolah, juga Penjuru Matamu milik abang (waktu itu yang saya cukup hafal, 'di penjuru matamu yang ungu lalu membiru...!)
Masih ingat, setiap kali ke pantai, saya akan melakarkan IRMA pada pasir lembap, sambil dalam hati saya tuturkan 'Irma, hanya satu kata yang terguris di pasir / penulisnya tak bernama dan sudah pergi/ Irma, kabarnya masih muda dan manis/ air yang ia mandi masih jernih...' (Fragmen sajak beliau yang berjudul 'Nama yang kutemui di Pasir')

Dan sewaktu merindu kehilangan oleh perpindahan abadi, saya dapati sajak ini memberi kesan yang sangat bermakna.

Sajak Baha Zain ini saya ambil dari antologi Dari Kertas Catatan Tengah Malam. Saya paparkan untuk kita sama-sama hayati. Sebagai mana penyair menghantar kepada kita keindahan makna lewat kata, saya sampaikan kepada teman-teman keindahan itu. Andai teman-teman sudahpun menemui keindahan itu terlebih dahulu, marilah kita sama-sama menikmatinya.
Saya paparkan juga sebuah sajak yang juga cukup indah dan mengharukan, karya Rahimidin Zahari lewat antologi Sekepal Tanah.

Sajak-sajak tentang 'perpindahan abadi' ini tunda-menunda mengasak ingatan oleh berita kepulangan beberapa tokoh yang kita cukup tahu. Sabar Bohari, Yasmin Ahmad, dan dari negara seberang Rendra dan Mbah Surip.

Minggu lepas saya terima sms dari teman sekolah, 'Lina Tomboy koma kerana barah otak'. Lina, teman seasrama sewaktu bersekolah dulu - penampilannya, biarpun dari rambut hingga pakaian persis budak lelaki (lalu terlekatlah gelaran tomboy), tetapi sopan-santunnya sangat terjaga dan menyenangkan sesiapa saja. Pagi tadi saya menghantar sms kepada teman, bertanyakan kabar tentang Lina Tomboy. Rupanya dia telah kembali kepada pencipta Jumaat lepas. Al Fatihah.